Tindakan Pencegahan Gangguan Perkembangan Motorik Anak
- Deteksi dini terh artikel ini disalin dari website
Penilaian pertumbuhan dan perkembangan dapat dilakukan sedini mungkin sejak anak dilahirkan. Deteksi dini merupakan upaya penjaringan artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang dilaksanakan secara komprehensif untuk menemukan penyimpangan tumbuh kembang dan mengetahui serta mengenal faktor resiko p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada balita, artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang disebut juga anak usia dini. Melalui deteksi dini dapat diketahui penyimpangan tumbuh kembang anak secara dini, sehingga upaya pencegahan, stimulasi, penyembuhan serta pemulihan dapat diberikan dengan indikasi artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang jelas p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada masa-masa kritis proses tumbuh kembang. Upaya-upaya tersebut diberikan sesuai dengan umur perkembangan anak, dengan demikian dapat tercapai kondisi tumbuh kembang artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang optimal (Tim Dirjen Pembinaan Kesmas, 1997). Penilaian pertumbuhan dan perkembangan meliputi dua hal pokok, yaitu penilaian pertumbuhan fisik dan penilaian perkembangan. Masing-masing penilaian tersebut mempunyai parameter dan alat ukur tersendiri.
- Pengukuran berat b artikel ini disalin dari website
http://blog.tp.ac.id adan (BB)
Pengukuran ini dilakukan secara teratur untuk memantau pertumbuhan dan ke artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adaan gizi balita. Balita ditimbang setiap bulan dan dicatat dalam Kartu Menuju Sehat Balita (KMS Balita) sehingga dapat dilihat grafik pertumbuhannya dan dilakukan interfensi jika terjadi penyimpangan. - Pengukuran tinggi b artikel ini disalin dari website
http://blog.tp.ac.id adan (TB)
Pengukuran tinggi b artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adan p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada anak sampai usia 2 tahun dilakukan dengan berbaring., sedangkan di atas umur 2 tahun dilakukan dengan berdiri. Hasil pengukuran setiap bulan dapat dicatat p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada dalam KMS artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang mempunyai grafik pertumbuhan tinggi b artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adan. - Pengukuran Lingkar Kepala Anak (PLKA)
PLKA artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adalah cara artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang biasa dipakai untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan otak anak. Biasanya ukuran pertumbuhan tengkorak mengikuti perkembangan otak, sehingga bila artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada hambatan p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada pertumbuhan tengkorak maka perkembangan otak anak juga terhambat. Pengukuran dilakukan p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada diameter occipitofrontal dengan mengambil rerata 3 kali pengukuran sebagai standar. - Development Screening Denver Test
DDST II merupakan alat untuk menemukan secara dini masalah penyimpangan perkembangan anak umur 0 s/d < 6 tahun. Instrumen ini merupakan revisi dari DDST artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang pertama kali dipublikasikan tahun 1967 untuk tujuan artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang sama.
Pemeriksaan artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang dihasilkan DDST II bukan merupakan pengganti evaluasi diagnostik, namun lebih ke arah membandingkan kemampuan perkembangan seorang anak dengan anak lain artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang seumur. DDST II digunakan untuk menilai tingkat perkembangan anak sesuai umurnya p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada anak artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang mempunyai tanda-tanda keterlambatan perkembangan maupun anak sehat. DDST II bukan merupakan tes IQ dan bukan merupakan peramal kemampuan intelektual anak di masa mendatang. Tes ini tidak dibuat untuk menghasilkan diagnosis, namun lebih ke arah untuk membandingkan kemampuan perkembangan seorang anak dengan kemampuan anak lain artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang seumur.
Menurut Pedoman Pemantauan Perkembangan Denver II (Subbagian Tumbuh Kembang Ilmu Kesehatan Anak RS Sardjito, 2004), formulir tes DDST II berisi 125 item yg terdiri dari 4 sektor, yaitu: personal sosial, motorik halus- artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adaptif, bahasa, serta motorik kasar. Sektor personal sosial meliputi komponen penilaian artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang berkaitan dengan kemampuan penyesuaian diri anak di masyarakat dan kemampuan memenuhi kebutuhan pribadi anak. Sektor motorik halus- artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adaptif berisi kemampuan anak dalam hal koordinasi mata-tangan, memainkan dan menggunakan benda-benda kecil serta pemecahan masalah.
Sehingga apabila hasil test menunjukkan artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adanya kelambatan ataupenyimpangan dari aspek motorik, fisik, emosional, dan sosial dapat dilakukan upaya terpadu dan terindikasi khusus untuk mencegah terjadinya kelainan fisik, mental, psikomotorik. - Beri Stimulus agar si Kecil melewati tahap
perkembangannya dengan baik
Pemberian stimulus-stimulus artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adalah untuk melatih atau mengajarkan anak-anak supaya melalui tahapan perkembangannya dengan baik. Stimulasi dilakukansambil bermain, misalnya mengajak anak berlari berkeliling meja makan sambil berpura-pura menjadi kucing artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang dikejar anjing kecil. Begitu pula ketika mau mandi, ajak anak berlari atau melompat-lompat ke arah kamar mandi. Kemudian minta ia membuka kancing bajunya, dan menaruh baju kotornya dengan melemparnya ke arah keranjang cucian. Kegiatan-kegiatan itu saja sudah menstimulasi beberapa motorik kasar si kecil.
1.
Stimulasi
Motorik Kasar
Tugas perkembangan jasmani berupa koordinasi gerakan tubuh, seperti berlari, berjinjit, melompat, bergantung, melempar dan menangkap,serta menjaga keseimbangan. Kegiatan ini diperlukan dalam meningkatkan keterampilan koordinasi gerakan motorik kasar. P artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada anak usia 4 tahun, anak sangat menyenangi kegiatan fisik artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang mengandung bahaya, seperti melompat dari tempat tinggi atau bergantung dengan kepala menggelantung ke bawah. P artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada usia 5 atau 6 tahun keinginan untuk melakukan kegiatan berbahaya bertambah. Anak p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada masa ini menyenangi kegiatan lomba, seperti balapan sepeda, balapan lari atau kegiatan lainnya artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang mengandung bahaya.
Nah, agar motorik anak dapat berkembang dengan baik dan sempurna perlu dilakukan stimulasi artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang terarah dan terpadu. Berikut stimulasi artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang dapat diberikan:
Tugas perkembangan jasmani berupa koordinasi gerakan tubuh, seperti berlari, berjinjit, melompat, bergantung, melempar dan menangkap,serta menjaga keseimbangan. Kegiatan ini diperlukan dalam meningkatkan keterampilan koordinasi gerakan motorik kasar. P artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada anak usia 4 tahun, anak sangat menyenangi kegiatan fisik artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang mengandung bahaya, seperti melompat dari tempat tinggi atau bergantung dengan kepala menggelantung ke bawah. P artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada usia 5 atau 6 tahun keinginan untuk melakukan kegiatan berbahaya bertambah. Anak p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada masa ini menyenangi kegiatan lomba, seperti balapan sepeda, balapan lari atau kegiatan lainnya artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang mengandung bahaya.
Nah, agar motorik anak dapat berkembang dengan baik dan sempurna perlu dilakukan stimulasi artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang terarah dan terpadu. Berikut stimulasi artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang dapat diberikan:
§ Jalan
Sebelum orangtua memberikan stimulasi p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada anak, pastikan anak sudah melalui perkembangan sebelumnya, seperti duduk, merangkak, dan berdiri. P artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada kemampuan motorik kasar ini, artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang harus distimulasi artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adalah kemampuan berdiri, berjalan ke depan, berjalan ke belakang, berjalan berjingkat, melompat/meloncat, berlari, berdiri satu kaki, menendang bola, dan lainnya. Berjalan seharusnya dikuasai saat anak berusia 1 tahun sementara berdiri dengan satu kaki dikuasai saat anak 2 tahun.
Untuk berjalan, perkembangan artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang harus dikuatkan artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adalah keseimbangan dalam hal berdiri. Ini berarti, si kecil tak hanya dituntut sek artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adar berdiri, namun juga berdiri dalam waktu artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang lebih lama (ini berkaitan dengan lamanya otot bekerja, dalam hal ini otot kaki).
Bila perkembangan jalan tidak dikembangkan dengan baik, anak akan mengalami gangguan keseimbangan. Si kecil jadi cenderung kurang pede dan ia pun selalu menghindari aktivitas artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang melibatkan keseimbangan seperti main ayunan, seluncuran, dan lainnya. Sebaliknya, anak lebih memilih aktivitas pasif seperti membaca buku, main playstation, dan sebagainya.
Stimulasi:
Orangtua berdiri berjarak dengan anak sambil memegang mainan artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang menarik. Gunakan karpet bergambar atau tempelkan gambar-gambar artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang menarik di lantai. Minta anak untuk menginjak karpet/lantai. Misalnya, “Ayo Dek, injak gambar gajahnya!”
Mainan seperti mobil-mobilan atau troli artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang bisa didorong-dorong juga bisa membantu anak belajar berjalan.
Sebelum orangtua memberikan stimulasi p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada anak, pastikan anak sudah melalui perkembangan sebelumnya, seperti duduk, merangkak, dan berdiri. P artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada kemampuan motorik kasar ini, artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang harus distimulasi artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adalah kemampuan berdiri, berjalan ke depan, berjalan ke belakang, berjalan berjingkat, melompat/meloncat, berlari, berdiri satu kaki, menendang bola, dan lainnya. Berjalan seharusnya dikuasai saat anak berusia 1 tahun sementara berdiri dengan satu kaki dikuasai saat anak 2 tahun.
Untuk berjalan, perkembangan artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang harus dikuatkan artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adalah keseimbangan dalam hal berdiri. Ini berarti, si kecil tak hanya dituntut sek artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adar berdiri, namun juga berdiri dalam waktu artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang lebih lama (ini berkaitan dengan lamanya otot bekerja, dalam hal ini otot kaki).
Bila perkembangan jalan tidak dikembangkan dengan baik, anak akan mengalami gangguan keseimbangan. Si kecil jadi cenderung kurang pede dan ia pun selalu menghindari aktivitas artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang melibatkan keseimbangan seperti main ayunan, seluncuran, dan lainnya. Sebaliknya, anak lebih memilih aktivitas pasif seperti membaca buku, main playstation, dan sebagainya.
Stimulasi:
Orangtua berdiri berjarak dengan anak sambil memegang mainan artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang menarik. Gunakan karpet bergambar atau tempelkan gambar-gambar artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang menarik di lantai. Minta anak untuk menginjak karpet/lantai. Misalnya, “Ayo Dek, injak gambar gajahnya!”
Mainan seperti mobil-mobilan atau troli artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang bisa didorong-dorong juga bisa membantu anak belajar berjalan.
§ Lari
Perkembangan lari akan memengaruhi perkembangan lompat dan lempar serta kemampuan konsentrasi anak kelak, P artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada tugas perkembangan ini, dibutuhkan keseimbangan tubuh, kecepatan gerakan kaki, ketepatan 4 pola kaki-(heel strike/bertumpu p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada tumit, toe off/telapak kaki mengangkat kemudian kaki bertumpu p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada ujung-ujung jari kaki, swing/kaki berayun dan landing/setelah mengayun kaki menapak p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada alas)dan motor planning (perencanaan gerak).
Lalu apa hubungan perkembangan lari dengan kemampuan konsentrasi? Begini, p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada perencanaan gerak (salah satu syarat tugas perkembangan lari) dibutuhkan kemampuan otak untuk membuat perencanaan dan dilaksanakan oleh motorik dalam bentuk gerak artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang terkoordinasi. Nah, kemampuan perencanaan gerak tingkat tinggi (seperti lari) akan memacu otak melatih konsentrasi.
Jika perkembangan lari tidak dikembangkan dengan baik, anak akan bermasalah dalam keseimbangannya, seperti mudah capek dalam beraktivitas fisik, sulit berkonsentrasi, cenderung menghindari tugas-tugas artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang melibatkan konsentrasi dan aktivitas artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang melibatkan kemampuan mental seperti memasang pasel, tak mau mendengarkan saat guru bercerita (anak justru asyik ke mana-mana), dan lainnya.
Stimulasi:
Stimulasi lari bisa dimulai ketika anak ber artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada fase jalan, sekitar usia 12 bulan ke atas. Aktivitasnya bisa berupa menendang bola, main sepeda (mulai roda 4 sampai bertahap ke roda 3 dan kemudian roda 2) serta naik turun tangga.
Perkembangan lari akan memengaruhi perkembangan lompat dan lempar serta kemampuan konsentrasi anak kelak, P artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada tugas perkembangan ini, dibutuhkan keseimbangan tubuh, kecepatan gerakan kaki, ketepatan 4 pola kaki-(heel strike/bertumpu p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada tumit, toe off/telapak kaki mengangkat kemudian kaki bertumpu p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada ujung-ujung jari kaki, swing/kaki berayun dan landing/setelah mengayun kaki menapak p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada alas)dan motor planning (perencanaan gerak).
Lalu apa hubungan perkembangan lari dengan kemampuan konsentrasi? Begini, p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada perencanaan gerak (salah satu syarat tugas perkembangan lari) dibutuhkan kemampuan otak untuk membuat perencanaan dan dilaksanakan oleh motorik dalam bentuk gerak artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang terkoordinasi. Nah, kemampuan perencanaan gerak tingkat tinggi (seperti lari) akan memacu otak melatih konsentrasi.
Jika perkembangan lari tidak dikembangkan dengan baik, anak akan bermasalah dalam keseimbangannya, seperti mudah capek dalam beraktivitas fisik, sulit berkonsentrasi, cenderung menghindari tugas-tugas artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang melibatkan konsentrasi dan aktivitas artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang melibatkan kemampuan mental seperti memasang pasel, tak mau mendengarkan saat guru bercerita (anak justru asyik ke mana-mana), dan lainnya.
Stimulasi:
Stimulasi lari bisa dimulai ketika anak ber artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada fase jalan, sekitar usia 12 bulan ke atas. Aktivitasnya bisa berupa menendang bola, main sepeda (mulai roda 4 sampai bertahap ke roda 3 dan kemudian roda 2) serta naik turun tangga.
§ Lompat
Kemampuan dasar artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang harus dimiliki anak artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adalah keseimbangan artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang baik, kemampuan koordinasi motorik dan motor planning (perencanaan gerak). Contoh, saat anak ingin melompati sebuah tali, ia harus sudah punya rencana apakah akan mendarat dengan satu kaki atau dua kaki. Kalaupun satu kaki, kaki mana artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang akan digunakan.
Jika anak tidak adekuat dalam perkembangan melompat, biasanya akan mengh artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adapi kesulitan dalam sebuah perencanaan tugas artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang terorganisasi (tugas-tugas artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang membutuhkan kemampuan motor planning).
Stimulasi:
Lompat di tempat atau di trampolin. Jangan lompat-lompat di tempat tidur karena meski melatih motorik namun “mengacaukan” kognitif. Dalam arti, mengajarkan perilaku atau mindset artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang tidak baik p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada anak. Karena seharusnya tempat tidur bukan tempat untuk melompat atau bermain.
Lompatan berjarak (gambarlah lingkaran-lingkaran dari kapur atau gunakan lingkaran holahop artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang diatur sedemikian rupa letaknya). Minta anak untuk melompati lingkaran-lingkaran tersebut, gr artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adasikan tingkat kesulitan dengan memperlebar jarak dan menggunakan kaki dua lalu satu secara bergantian.
Kemampuan dasar artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang harus dimiliki anak artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adalah keseimbangan artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang baik, kemampuan koordinasi motorik dan motor planning (perencanaan gerak). Contoh, saat anak ingin melompati sebuah tali, ia harus sudah punya rencana apakah akan mendarat dengan satu kaki atau dua kaki. Kalaupun satu kaki, kaki mana artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang akan digunakan.
Jika anak tidak adekuat dalam perkembangan melompat, biasanya akan mengh artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adapi kesulitan dalam sebuah perencanaan tugas artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang terorganisasi (tugas-tugas artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang membutuhkan kemampuan motor planning).
Stimulasi:
Lompat di tempat atau di trampolin. Jangan lompat-lompat di tempat tidur karena meski melatih motorik namun “mengacaukan” kognitif. Dalam arti, mengajarkan perilaku atau mindset artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang tidak baik p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada anak. Karena seharusnya tempat tidur bukan tempat untuk melompat atau bermain.
Lompatan berjarak (gambarlah lingkaran-lingkaran dari kapur atau gunakan lingkaran holahop artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang diatur sedemikian rupa letaknya). Minta anak untuk melompati lingkaran-lingkaran tersebut, gr artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adasikan tingkat kesulitan dengan memperlebar jarak dan menggunakan kaki dua lalu satu secara bergantian.
§ Lempar
P artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada fase ini artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang berperan artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adalah sensori keseimbangan, rasa sendi (proprioseptif), serta visual. Peran artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang paling utama artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adalah proprioseptif, bagaimana sendi merasakan suatu gerakan atau aktivitas. Umpama, p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada saat anak melempar bola, seberapa kuat atau lemah lemparannya, supaya bola masuk ke dalam keranjang atau sasaran artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang dituju.
Jika kemampuan melempar tidak dikembangkan dengan baik, anak akan bermasalah dengan aktivitas artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang melibatkan gerak ekstrimitas atas (bahu, lengan bawah, tangan dan jari-jari tangan). Seperti, dalam hal menulis. Tulisannya akan tampak terlalu menekan sehingga artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada beberapa anak artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang tulisannya tembus kertas, atau malahan terlalu kurang menekan (tipis) atau antarhurufnya jarang-jarang (berjarak). Dalam permainan artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang membutuhkan ketepatan sasaran pun, anak tidak mahir. Umpama, permainan dartboard. Aktivitas motorik halus lainnya juga terganggu semisal pakai kancing baju, menali sepatu, makan sendiri, meronce, main pasel, menyisir rambut, melempar sasaran, dan lain-lain. Intinya, stimulasi p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada perkembangan ini artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang tidak optimal berindikasi p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada keterampilan motorik halus artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang bermasalah.
Gangguan lain berkaitan dengan koordinasi, rasa sendi dan motor planning artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang bermasalah. Contoh, ketika bola dilempar ke arah anak, artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada dua kemungkinan respons anak, yaitu tangan menangkap terlambat sementara bola sudah sampai. Atau tangan melakukan gerak menangkap terlebih dahulu sementara bola belum sampai. Seharusnya, respons tangkap anak sesuai dengan stimulus datangnya bola dan anak bisa memprediksinya. Bila artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada gangguan berarti anak bermasalah dalam sensori integrasinya. Sensori integrasi artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adalah mengintegrasikan gerak berdasarkan kemampuan dasar sensori anak. Tentunya ini dapat diatasi dengan terapi artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang mengintegrasikan sensori-sensorinya.
P artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada fase ini artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang berperan artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adalah sensori keseimbangan, rasa sendi (proprioseptif), serta visual. Peran artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang paling utama artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adalah proprioseptif, bagaimana sendi merasakan suatu gerakan atau aktivitas. Umpama, p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada saat anak melempar bola, seberapa kuat atau lemah lemparannya, supaya bola masuk ke dalam keranjang atau sasaran artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang dituju.
Jika kemampuan melempar tidak dikembangkan dengan baik, anak akan bermasalah dengan aktivitas artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang melibatkan gerak ekstrimitas atas (bahu, lengan bawah, tangan dan jari-jari tangan). Seperti, dalam hal menulis. Tulisannya akan tampak terlalu menekan sehingga artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada beberapa anak artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang tulisannya tembus kertas, atau malahan terlalu kurang menekan (tipis) atau antarhurufnya jarang-jarang (berjarak). Dalam permainan artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang membutuhkan ketepatan sasaran pun, anak tidak mahir. Umpama, permainan dartboard. Aktivitas motorik halus lainnya juga terganggu semisal pakai kancing baju, menali sepatu, makan sendiri, meronce, main pasel, menyisir rambut, melempar sasaran, dan lain-lain. Intinya, stimulasi p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada perkembangan ini artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang tidak optimal berindikasi p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada keterampilan motorik halus artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang bermasalah.
Gangguan lain berkaitan dengan koordinasi, rasa sendi dan motor planning artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang bermasalah. Contoh, ketika bola dilempar ke arah anak, artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada dua kemungkinan respons anak, yaitu tangan menangkap terlambat sementara bola sudah sampai. Atau tangan melakukan gerak menangkap terlebih dahulu sementara bola belum sampai. Seharusnya, respons tangkap anak sesuai dengan stimulus datangnya bola dan anak bisa memprediksinya. Bila artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada gangguan berarti anak bermasalah dalam sensori integrasinya. Sensori integrasi artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adalah mengintegrasikan gerak berdasarkan kemampuan dasar sensori anak. Tentunya ini dapat diatasi dengan terapi artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang mengintegrasikan sensori-sensorinya.
§ Stimulasi:
Main lempar tangkap bola (gr artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adasikan tingkat kesulitannya) yaitu posisi, besar bola, berat bola, dan jenis lambungan. P artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada posisi bisa dilakukan sambil duduk kaki lurus, duduk kaki bersila, duduk kaki seperti huruf W ke belakang, jongkok, dan bahkan berdiri. P artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada jenis lambungan, bisa dilakukan dengan lambungan dari atas, sejajar, atau lambungan dari bawah.
Main dartboard atau lempar panah. Gunakan jenis dartboard artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang khusus buat anak-anak ( artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang aman dan tidak tajam), seperti jenis dartboard artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang terbuat dari papan velcrow dan anak panahnya diganti dengan bola artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang bervelcrow.
Main lempar tangkap bola (gr artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adasikan tingkat kesulitannya) yaitu posisi, besar bola, berat bola, dan jenis lambungan. P artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada posisi bisa dilakukan sambil duduk kaki lurus, duduk kaki bersila, duduk kaki seperti huruf W ke belakang, jongkok, dan bahkan berdiri. P artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada jenis lambungan, bisa dilakukan dengan lambungan dari atas, sejajar, atau lambungan dari bawah.
Main dartboard atau lempar panah. Gunakan jenis dartboard artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang khusus buat anak-anak ( artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang aman dan tidak tajam), seperti jenis dartboard artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang terbuat dari papan velcrow dan anak panahnya diganti dengan bola artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang bervelcrow.
2.
Stimulasi
Motorik Halus
Perkembangan motorik halus anak taman kanak-kanak ditekankan p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada koordinasi gerakan motorik halus dalam hal ini berkaitan dengan kegiatan meletakkan atau memegang suatu objek dengan menggunakan jari tangan. P artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada usia 4 tahun koordinasi gerakan motorik halus anak sangat berkembang bahkan hampir sempurna. Walaupun demikian anak usia ini masih mengalami kesulitan dalam menyusun balok-balok menjadi suatu bangunan. Hal ini disebabkan oleh keinginan anak untuk meletakkan balok secara sempurna sehingga k artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adang-k artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adang meruntuhkan bangunan itu sendiri. P artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada usia 5 atau 6 tahun koordinasi gerakan motorik halus berkembang pesat. P artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada masa ini anak telah mampu mengkoordinasikan gerakan visual motorik, seperti mengkoordinasikan gerakan mata dengan tangan, lengan, dan tubuh secara bersamaan,antara lain dapat dilihat p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada waktu anak menulis atau menggambar.
Nah agar motorik anak dapat berkembang dengan baik dan sempurna perlu dilakukan stimulasi artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang terarah dan terpadu. Berikut stimulasi artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang dapat diberikan sesuai umurnya. Stimulasi berikut mudah diterapkan dengan sarana dan fasilitas artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada di sekitar kita!
Perkembangan motorik halus anak taman kanak-kanak ditekankan p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada koordinasi gerakan motorik halus dalam hal ini berkaitan dengan kegiatan meletakkan atau memegang suatu objek dengan menggunakan jari tangan. P artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada usia 4 tahun koordinasi gerakan motorik halus anak sangat berkembang bahkan hampir sempurna. Walaupun demikian anak usia ini masih mengalami kesulitan dalam menyusun balok-balok menjadi suatu bangunan. Hal ini disebabkan oleh keinginan anak untuk meletakkan balok secara sempurna sehingga k artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adang-k artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adang meruntuhkan bangunan itu sendiri. P artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada usia 5 atau 6 tahun koordinasi gerakan motorik halus berkembang pesat. P artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada masa ini anak telah mampu mengkoordinasikan gerakan visual motorik, seperti mengkoordinasikan gerakan mata dengan tangan, lengan, dan tubuh secara bersamaan,antara lain dapat dilihat p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada waktu anak menulis atau menggambar.
Nah agar motorik anak dapat berkembang dengan baik dan sempurna perlu dilakukan stimulasi artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang terarah dan terpadu. Berikut stimulasi artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang dapat diberikan sesuai umurnya. Stimulasi berikut mudah diterapkan dengan sarana dan fasilitas artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada di sekitar kita!
§ Kelompok Umur 0-3 Bulan
§ Menggantungkan mainan artikel ini disalin dari website
http://blog.tp.ac.id yang dapat berputar/berbunyi dan berwarna cerah sehingga
membuat bayi tertarik dan melihat, menggapai/menendang mainan tersebut.
§ Letakkan/sentuhkan sebuah mainan kecil, berbunyi dan
berwarna cerah p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada
tangan bayi atau punggung jari-jarinya.
§ Ajak bayi meraba dan merasakan berbagai bentuk permukaan
seperti mainan binatang, mainan plastik, kain-kain perca, dan lain-lain.
§ Kelompok Umur 3-6 Bulan
§ Stimulasi sebelumnya tetap dilanjutkan.
§ Letakkan mainan sejenis rattle lalu coba tarik pelan-pelan
untuk melatih bayi memegang dengan kuat.
§ Letakkan sebuah mainan di tangan bayi dan perhatikan apakah
ia memindahkannya ke tangan artikel ini disalin dari website
http://blog.tp.ac.id yang lain. Lain waktu berikan mainan p artikel ini disalin
dari website http://blog.tp.ac.id ada kedua tangannya.
§ Kelompok Umur 6-9 Bulan
§ Mengambil benda-benda kecil, seperti remahan roti.
§ Memasukkan benda ke dalam w artikel ini disalin dari website
http://blog.tp.ac.id adah.
§ Bermain genderang dengan menggunakan kaleng kosong bekas dan
tunjukkan cara memukulnya.
§ Membuat bunyi-bunyian dengan membenturkan 2 kubus/balok
artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang tidak dapat pecah.
§ Kelompok Umur 9-12 Bulan
§ Bermain dengan maian artikel ini disalin dari website
http://blog.tp.ac.id yang mengapung di air.
§ Menyusun balok/kotak.
§ Menggambar dengan menggunakan krayon/pensil berwarna.
§ Bermain dengan menggunakan peralatan memasak, tentunya
artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yangb aman dan berbahan
plastik khusus buat si kecil.
§ Kelompok Umur 1 Tahun ke atas (Balita)
§ Diajarkan untuk menggambar sesuatu, missal manusia
§ Diarahkan untuk membuka kancing baju sendiri
§ Bermain menyusun puzzle sederhana
§ Mencuci tangan sendiri
§ Bermain membentuk sesuatu dari plastisin
§ Belajar membaca dan menulis.
Ketika anak mampu melakukan suatu
gerakan motorik, maka akan termotivasi untuk bergerak kep artikel ini disalin
dari website http://blog.tp.ac.id ada motorik artikel ini disalin dari website
http://blog.tp.ac.id yang lebih luas lagi. Aktivitas fisiologis meningkat
dengan tajam. Anak seakan-akan tidak mau berhenti melakukan aktivitas fisik,
baik artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang melibatkan
motorik kasar maupun motorik halus. P artikel ini disalin dari website
http://blog.tp.ac.id ada saat mencapai kematangan untuk terlibat secara aktif
dalam aktivitas fisik artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id
yang ditandai dengan kesiapan dan motivasi artikel ini disalin dari website
http://blog.tp.ac.id yang tinggi, artikel ini disalin dari website
http://blog.tp.ac.id yang memungkinkan anak akan berlaku liar dan nakal serta
tidak terarah, seiring dengan hal tersebut, orang tua dan guru perlu memberikan
semacam stimulasi seperti artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id
yang telah dupaparkan diatas dengan berbagai kesempatan dan pengalaman artikel
ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang dapat meningkatkan
keterampilan motorik anak secara optimal. Peluang-peluang ini tidak saja
berbentuk membiarkan anak melakukan kegiatan fisik akan tetapi perlu di dukung
dengan berbagai fasilitas artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id
yang berguna bagi pengembangan keterampilan motorik kasar dan motorik halus.
Sehingga si kecil dapat melalui tahapan-tahapan perkembangannya dengan baik dan
terarah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar